07 September 2023

SEJARAH PERANG DIPONEGORO - PERANG TERBESAR DI TANAH JAWA

 SEJARAH PERANG DIPONEGORO - PERANG TERBESAR DI TANAH JAWA

 

https://www.tribunnewswiki.com/2019/08/01/pangeran-diponegoro

Hai Perang Jawa dengan Perang Diponegoro sebagai tokoh sentralnya merupakan pertempuran melelahkan melawan Belanda yang berlangsung selama lima tahun antara tahun 1825-1830 sebelum peristiwa dalam sejarah Indonesia ini terjadi terdapat penyebab dan kronologi begitu pula dengan dampak yang ditimbulkan setelahnya [Musik] meninggalnya pendiri Kesultanan ngayogyakarta Hadiningrat atau Kesultanan Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono 1 pada 24 Mar 1972 membuka peluang bangsa penjajah semakin menancapkan pengaruhnya di lingkungan

Kerajaan The Beatles RI dalam Origins of The Java World tahun 1976 mengungkapkan bahwa campur tangan bangsa asing menyebabkan terjadinya konflik di internal Keraton Yogyakarta pada 1811 Belanda memaksa Sultan Hamengkubuwono dua turun Tahta lalu Raja diberikan kepada Hamengkubuwono tiga sebagai Sultan Yogyakarta selanjutnya. Hai senyum [Musik] Pangeran Diponegoro merupakan pangeran dari Kesultanan Yogyakarta lahir tanggal 11 November 1973 museum ini adalah Raden Mas mustahar yang kemudian diganti menjadi

Radenmas antawirya seiring usia sesuai tradisi Kraton Raden Mas ontowiryo adalah putra dari Raden Mas Surabaya atau yang nantinya bertahta dengan gelar Sultan Hamengkubuwono Tiga sang ayah sebenarnya menginginkan radenmas antawirya menjadi putra mahkota Namun keinginan Sultan Hamengkubuwono tiga itu ditolak dengan halus lantaran ibunya bukan istri permaisuri Raja Raden Mas ontowiryo merasa tidak berhak Duduk di singgasana Yogyakarta meskipun Ia adalah anak lelaki tertua Selain itu ia juga tidak terlalu menyukai kehidupan mewah di dalam istana

Hai selalu Sultan Hamengkubuwono tiga wafat pada 1814 dan digantikan oleh Raden Mas Ibnu Jarot putra dari istri permaisuri saat itu Raden Mas Ibu Jarot atau yang kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono 4 masih berusia 10 tahun pengaruh Belanda atas Creator semakin gua disaat istana sedang labil lantaran Sultan Hamengkubuwono 4 masih kecil muak atas situasi Itu Raden Mas antawirya memutuskan keluar dari Kraton dan kemudian tinggal di kediaman neneknya di wilayah Tegalrejo Yogyakarta dari sinilah perlawanan Raden Mas

Ontowiryo alias Pangeran Diponegoro terhadap Belanda bermula sagimun dalam buku Pahlawan Dipanegara berjuang tahun 1957 menjelaskan terdapat beberapa alasan mengapa Pangeran Diponegoro berusaha melawan hai pertama Belanda semakin mencampuri urusan internal Keraton Yogyakarta alasan kedua akibat pengaruh Belanda beban pajak yang ditanggung rakyat menjadi sangat berat dan alasan berikutnya rencana Belanda membangun jalan kereta api yang melewati kediaman neneknya membuat Pangeran Diponegoro mantap melakukan perlawanan

Anthony hendriks smissaert Residence Yogyakarta yang merupakan orang Belanda berniat membangun jalan kereta api rencana ini ditentang oleh Pangeran Diponegoro lantaran rel kereta api tersebut mengenai area kediaman neneknya di Tegalrejo Hai brand Jawa tak dapat dihindari dimulai pada 20 Juli 1872 angeran Diponegoro dan para pengikutnya menerapkan strategi gerilya untuk menghadapi Belanda yang jelas lebih unggul jumlah prajurit dan persenjataan Hai tubuh Pangeran Diponegoro bermarkas di pedalaman Goa Selarong suatu kawasan

Pegunungan di wilayah Pajangan Bantul yang terletak sekitar 26 km ke arah barat daya dari Keraton Yogyakarta. Beberapa tokoh pahlawan yang berandil besar membantu Pangeran Diponegoro antara lain Kyai Mojo dan alibasa Sentot prawirodirjo sedangkan pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Hendrik merkus de Kock pasukan Diponegoro selalu bergerak masuk keluar hutan naik turun gunung dan menjelajahi banyak wilayah dari Yogyakarta Jawa Tengah sampai Jawa Timur le Hai strategi ini sangat merepotkan Belanda yang terpaksa mengeluarkan banyak biaya.

Untuk membiayai Perang Jawa dan mendatangkan pasukan bantuan Belanda terpaksa menarik pasukan yang sedang menghadapi pertempuran di Sumatera Barat yakni perang Padri yang digalang oleh para tokoh Minangkabau termasuk Tuanku Imam Bonjol untuk diperbantukan di Perang Jawa Hai dan kekuatan Belanda yang semakin bertambah membuat kubu Pangeran Diponegoro mulai terdesak satu demi satu pimpinan pasukan Diponegoro tetangga termasuk Kiai Mojo dan alibasa Sentot prawirodirjo Belanda menawarkan gencatan senjata Pangeran Diponegoro yang semula Kukuh

Akhirnya bersedia demi keselamatan pasukan dan pengikutnya Ia mau diajak berunding dengan syarat Keluarga dan para pengikutnya dibebaskan pada tanggal 28 Maret 1830 diadakan perundingan antara Pangeran Diponegoro dan Jenderal de Kock di Magelang Jawa Tengah rupanya ini taktik licik Belanda Pangeran Diponegoro yang tidak bersenjata justru ditangkap ditahannya Pangeran Diponegoro otomatis membuat Perang Jawa yang melelahkan dan telah berlangsung selama lima tahun itu tahun 1825-1830 berhenti Hai dikutip dari Sulawesi ailun

Crossroads of Indonesia tahun 1990 karya Tobi alis Hotman Pangeran Diponegoro kemudian diasingkan ke Manado kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafat pada tanggal 8 Januari 1855 Hai menurut naik Rivals dalam History of modern Indonesia since 2017 Android tahun 1981 secara keseluruhan dampak Perang Jawa telah merenggut 200.

Korban jiwa diantaranya 7000 orang dari pihak pribumi dan delapan ribu orang dari pasukan Belanda perang Jawa sangat mematikan bagi Belanda dan menguras banyak sumberdaya termasuk pasukan dan uang atau pendanaan yang menyebabkan pemerintah kolonial kala itu mengalami krisis keuangan.

 

Sumber: YouTube

https://www.youtube.com/watch?v=LQO4BWP-cXI

 

08 Agustus 2023

MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS SUMBER BELAJAR DIGITAL UNTUK PEMBELAJARAN

MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS SUMBER BELAJAR DIGITAL UNTUK PEMBELAJARAN

Transformasi di dunia Pendidikan telah mengalami perubahan seiring berkembangnya zaman era digitalisasi teknologi terlebih pasca pandemi covid-19. Untuk menjawab perubahan tersebut, Pemerintah merancang sebuah kurikulum yang saat ini kita sebut Kurikulum Merdeka. Sesuai dengan isi Kepmendikbudristek No. 262 Tahun 2022, Pedoman Penerapan Kurikulum dalam rangka Pemulihan Pembelajaran (Kurikulum Merdeka) yang isinya menjelaskan   Kehadiran kurikulum ini sebagai wujud upaya memperbaiki sistem Pendidikan di Indonesia dengan mengutamakan nilai-nilai  Pancasila dan kearifan lokal. 
Peserta Pembatik 2023, menurut Anda jika dalam sebuah kelas ada beraneka ragam karakter peserta didik maka mereka juga pasti memiliki beragam kebutuhan belajar. Kebutuhan belajar yang seperti apa dapat difasilitasi oleh guru dan bagaimana caranya?
Tomlinson (2001) menyampaikan bahwa kebutuhan belajar peserta didik, dibagi berdasarkan 3 aspek.  Ketiga aspek tersebut adalah:
  •  Kesiapan belajar (readiness) peserta didik
Kesiapan belajar yang dimaksud adalah kemampuan si peserta didik untuk memahami materi baru, apakah pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya cocok dengan pengetahuan yang akan diajarkan
  •  Minat peserta didik 
minat belajar adalah kemauan yang mengarahkan seseorang untuk merespons situasi atau objek tertentu sesuai dengan keinginannya. Minat belajar merupakan salah satu pendukung penting bagi peserta didik agar terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
  • Profil belajar peserta didik
Aspek profil belajar akan mengacu pada bagaimana cara individu untuk belajar paling baik sehingga mendapatkan kesempatan untuk belajar secara natural dan efisien. Ada beberapa faktor terkait profil belajar peserta didik yaitu preferensi terhadap lingkungan belajar, pengaruh budaya, preferensi gaya belajar (Auditori, Visual, Kinestetik) serta preferensi berdasarkan kecerdasan majemuk.

Oleh sebab itu, ada tiga jenis pilihan strategi dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi, yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk ( Thomlinson 2001: 72-85).

Diferensiasi konten adalah cara guru memfasilitasi peserta didik untuk mencari sumber belajar sesuai dengan  materi ajar yang dipelajari. Langkah yang dapat  guru lakukan adalah  menyediakan konten- konten sumber belajar yang variatif seperti sumber belajar digital dari Platform Merdeka Mengajar. Untuk pemahaman lebih jelas terkait penerapan diferensiasi konten dalam pembelajaran, Bapak/Ibu silahkan link berikut : https://guru.kemdikbud.go.id/video-inspirasi/playlists/video?id=87&video=5N6JATYPdzk
Diferensiasi proses adalah  bagaimana peserta didik  menggali informasi pada  materi ajar  yang dipelajari baik secara mandiri atau kelompok melalui kegiatan yang bertahap.  Kegiatan ini dapat diawali dengan memberikan pertanyaan pemantik, mengembangkan kegiatan bervariasi dan menggunakan pengelompokan yang fleksibel. Untuk pemahaman lebih jelas terkait penerapan diferensiasi proses dalam pembelajaran, Bapak/Ibu silahkan klik link berikut : https://guru.kemdikbud.go.id/video-inspirasi/playlists/video?id=87&video=AB80RuCyPUw

Diferensiasi produk, yaitu berupa hasil akhir pembelajaran yang kita harapkan dari peserta didik, dengan memberikan tantangan atau keragaman variasi serta memilih produk apa yang diminatinya.  Untuk pemahaman lebih jelas terkait penerapan diferensiasi produk dalam pembelajaran, Bapak/Ibu silahkan klik link berikut:
https://guru.kemdikbud.go.id/video-inspirasi/playlists/video?id=87&video=T-kQWFyaeww

Dari uraian ini, Prinsip pembelajaran terdiferensiasi dapat diterapkan oleh guru dengan melakukan pemetaan akan kebutuhan belajar murid. Guru harus mampu menganalisis kesiapan belajar peserta didiknya. salah satu caranya adalah dengan melaksanakan asesmen formatif awal. Asesmen ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan awal si peserta didik terkait topik/ mata pelajaran yang diajarkan. Bapak/Ibu peserta pembatik 2023, masih bingung dengan contoh asesmen awal itu bagaimana bentuk dan tahapan pelaksanaannya? Silahkan klik link berikut untuk melihat contoh asesmen awal:  https://guru.kemdikbud.go.id/video-inspirasi/playlists/video?id=88&video=31XdQwTPR9k

Sumber : https://classroom.google.com/c/NjE3MjIyNjQ1NDM2/m/NjE3Mjc4MTgwOTMz/details

28 Juli 2023

Kilas Belajar TIK

Dokumentasi pembelajaran TIK. Anak-anak hebat kelas 4 yang melakukan aktivitas mencocokkan tulisan dan gambar tentang perangkat TIK. Jangan lupa ya pertemuan berikutnya kita akan Tes Lisan untuk mengenali perangkat TIK. Untuk itu bisa berlatih dirumah dulu bersama orang tua. Terima kasih 🙏👍
Itulah sekilas cerita pembelajaran yang dilakukan di kelas 4. Anak-anak sangat semangat untuk menggunting kertas dan menempelkan di gambar yang diberikan. 
Dengan kegiatan tersebut, diharapkan anak bisa mengenali perangkat TIK dengan mudah.





26 Juli 2023

Pembelajaran Nilai-nilai Pancasila Kelas V

Pembelajaran hari ini Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di kelas 5.

Materi tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Anak-anak sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran pembelajaran
Anak-anak mengamati gambar dan contoh vidio tentang nilai-nilai Pancasila dari masing-masing lambang 5 sila.

Hal yang menarik adalah saat anak-anak menyaksikan vidio tentang peluncuran satelit Indonesia yaitu satelit satria 1. Anak-anak merasa bangga dan semoga akan tumbuh rasa cinta tanah air sesuai dengan salah satu nilai dari bentuk sikap dari pengamalan sila ke 3.
Semoga nanti akan lahir para ahli yang dapat membanggakan bangsa dan negara. Amin


Dokumentasi Kegiatan Belajar Di dalam Kelas


Terawan, 26 Juli 2023

Salam semangat dan Bahagia
Anak-anak Hebat
Terima kasih 🙏

25 April 2023

SEJARAH KETUPAT




SEJARAH KETUPAT

Adalah Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa.

Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran.

Arti Kata Ketupat.

Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau KUPAT merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.
Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.
Laku papat artinya empat tindakan.

Ngaku Lepat.

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang jawa.
Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

Laku Papat.

1. Lebaran.
2. Luberan.
3. Leburan.
4. Laburan.

Lebaran.
Sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa.

Luberan.
Meluber atau melimpah, ajakan bersedekah untuk kaum miskin.
Pengeluaran zakat fitrah.

Leburan.
Sudah habis dan lebur. Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan.
Berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding.
Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.

FILOSOFI KUPAT - LEPET

KUPAT
Kenapa mesti dibungkus janur?
Janur, diambil dari bahasa Arab " Ja'a nur " (telah datang cahaya ).
Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia.
Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki.
Kenapa? karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja'a nur).

LEPET
Lepet = silep kang rapet.
Mangga dipun silep ingkang rapet, mari kita kubur/tutup yang rapat.
Jadi setelah ngaku lepat, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.

Betapa besar peran para wali dalam memperkenalkan agama Islam. Umat muslim sudah seharusnya memuliakan budaya atau ajaran yang telah disampaikan para wali di Indonesia ini.#KetupatLebaran2023

12 April 2023

Koneksi Antarmateri modul 3.1.a.9. Pengambilan Keputusan

 

 


Koneksi Antarmateri modul 3.1.a.9.

Pengambilan Keputusan

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).

Bob Talbert 

Education is the art of making man ethical.

Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.

~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~

 

Dari beberapa kutipan tersebut, kita sebagai calon guru penggerak yang telah diberikan materi tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, maka kita koneksikan dengan materi-materi di modul yang telah kita pelajari sebelumnya

Agar mempermudah dalam koneksi materi modul 3.1.a.9 pengambilan keputusan dengan modul sebelumnya, di LMS diberikan panduan berisi beberapa pertanyaan, berikut pertanyaan pemandu.

1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Koneksi antar materi

Filosofi Pratap Triloka menyatakan tentang Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, yang akan kita bahas koneksinya dengan materi pengambilan keputusan

a. Ing Ngarso Sung Tulodo

Ketika kita menjadi pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan untuk teman sejawat, terutama untuk murid kita, sebagai pemimpin pembelajaran di kelas kita. Sebagai seorang pemimpin di sekolah pastinya akan menghadapi situasi di mana mengambil suatu keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar.

Keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah. maka dalam pengambilan keputusan kita harus mengikuti 9 langkah dalam pengambilan keputusan agar keputusan yang kita ambil bisa memberikan contoh pada murid kita

b. Ing Madya Mangun Karsa

Ketika kita dalam posisi di tengah harus bisa memberikan semangat , dorongan pada murid untuk membangun karsa

karsa merupakan suatu unsur yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa ini pun berhubungan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut oleh seseorang, disadari atau pun tidak. Nilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika.

Maka kita harus memberikan semangat ataupun dorongan pada murid agar memiliki karsa yang sesuai dengan nilai-nilai atau prinsip dalam pengambilan keputusan.

 

c. Tut Wuri Handayani

Dibelakang dapat memberikan dorongan kinerja murid dalam mengembangkan potensinya. Koneksi dengan materi pengambilan keputusan, guru memberikan dorongan pada murid dalam mengambil keputusan untuk mengembangkan potensinya sesuai dengan bakat minatnya

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Dalam pengambilan suatu keputusan, seringkali kita bersinggungan dengan prinsip-prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal. Seseorang yang memiliki penalaran yang baik, akan menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang baik juga. Karena prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, terlepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Menurut Kidder, 2009 ada tiga prinsip dalam pengambilan keputusan, diantaranya;

1.     Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2.     Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3.     Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Perlu diingat bahwa setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya, oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid

3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Pendamping (pengajar Praktik) dan fasilitator memberikan saya wawasan dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching, membuat saya menemukan ide baru atau cara untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dalam mencapai tujuan yang saya kehendaki dan membantu saya menerapkan coaching pada teman sebaya dalam mengambil keputusannya sendiri berdasarkan Langkah TIRTA.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Menurut saya dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan, dengan Pengenalan emosi dapat membantu baik guru maupun murid dapat merespon terhadap kondisinya sendiri secara lebih tepat, sehingga Ketika ada bujukan moral maupun dilema etika guru bisa mengambil keputusan dengan tepat.

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Beban dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting. Tugas pendidik dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik.

Apa yang kita diinginkan kadang-kadang belum tentu itu yang terbaik. Tapi setidaknya, kita telah mengambil keputusan yang dilakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid dan tetap memegang teguh nilai-nilai kebajikan universal.

 

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Menurut saya, agar pengambilan keputusan tepat dan terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman maka kitab isa menerapkan 9 langkah dalam pengambilan keputusan yaitu dengan mengidentifikasi masalah yang dihadapi dan melakukan pemetaan, Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan, melakukan Pengujian benar atau salah, melakukan Pengujian Paradigma Benar lawan Benar, Melakukan Prinsip Resolusi, Investigasi Opsi Trilema, membuat keputusan, dan melihat lagi keputusan dan merefleksikan untuk perbaikan.

7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Dari pengalaman yang saya alami saat bekerja pada institusi pendidikan, saya telah mengetahui bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu.

Ketika saya menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup, ini Kembali pada 4 paradigma yaitu

a. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
b. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
c. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
d, Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Iya, terdapat kaitannya seperti adalnya kesulitan yang saya hadapi, misalnya jika ada 2 faktor sebagi berikut;
a. Sistem yang besar yang memaksa kita untuk tetap tidak bisa melaksanakan keputusan sesuai dengan kebajikan universal
b. Belum adanya komitmen warga sekolah dalam melaksanakan keputusan yang telah disepakati

8. Dan pada akhirnya, Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Iya, pengambilan keputusan yang kita ambil memberikan kebebasan pada murid untuk mengambil keputusan dengan tetap dalam tuntunan kita sebagai pendidik.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Pengambilan keputusan yang menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan memberikan teladan bagi murid di masa depan, namun jika keputusan diambil tanpa menerapkan 9 langkah dan tergesa-gesa bisa jadi menghancurkan masa depan murid

10. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan yang dapat saya ambil dari koneksi materi modul 3.1.a.9 pengambilan keputusan adalah pengambilan keputusan harus berpihak pada murid dan nilai-nilai kebajikan secara universal.

 

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Berdasarkan apa yang sudah saya pelajari di modul 3.1 saya mampu membedakan antara diema etika dan bujukan moral. Dimana dilemma etika merupakan situasi dimana terjadi pertentangan dua kebenaran  atau  benar vs benar, sementara bujukan moral adalah situasi dimana terjadi sebuah pertentangan benar lawan salah, sehingga saya menyadari benang merah antara keduanya. Hal yang tidak terduga adalah pada saat awal saya mempelajari dilemma etika, saya merasa terjebak dalam menentukan sebuah kasus  antara bujukan moral dan dilema etika, malahan ada kasus diema etika yang saya kategorikan bujukan moral, sehingga saya merasa keputusan saya selama ini yang buat sebelum mempelajari modul ini cenderung kaku atau hanya berbasis peraturan sehingga saya merasa untuk melenceng dari aturan itu sulit. Keetika mempelajari dilema etika saya merasa, ada kalanya kita perlu melenceng dari aturan untuk kemaslahatan yang lebih besar, sehingga paradigma pengambilan keputusan dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan diema etika sangatlah penting dilakukan. Begitu pula 9 langkah pengambilan dna pengujian keputusan adalah langkah yang sangat runut dan terarah yang sangat berguna dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang saya ambil.

Empat paradigma pengambilan keputusan  yaitu

·       Individu lawan masyarakat (individual vs community)

·       Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

·       Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

·       Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Pentingnya mengidentifikasi paradigma ini, bukan hanya mengelompokkan permasalahan, namun membawa penajaman bahwa situasi yang saya hadapi betul- betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

 Saya juga sudah memahami tentang tiga prinsip pengambilan keputusan yang terdiri atas 3 prinsip yaitu

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Konsep lain yang sangat penting adalah 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Saya merasa langkah ini sangat penting untuk memantapkan keputusan yang saya ambil, jika saya sudah melakukan 9 uji ini maka saya bisa memastikan keputusan saya efektif. Menurut saya, 9 langkah ini sangat detail dan terstruktur dan juga memudahkan dalam mengambil keputusan karena runut dan terpola dengan baik

9 langkah tersebut adalah

Langkah 1: Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

Langkah 2: Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini 

Langkah 3: Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

Langkah 4: Pengujian benar atau salah, yang terdiri atas:

  1. Uji Legal
    menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah. Pilihannya menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya keputusan yang berhubungan dengan moral.
  2. Uji Regulasi/Standar Profesional
    Berhubungan dengan pelanggaran peraturan atau kode etik.
  3. Uji Intuisi
    Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini. 
  4. Uji Halaman  Depan Koran
    Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan dari koran dan sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi masyarakat? Bila Anda merasa tidak nyaman membayangkan hal itu akan terjadi, kemungkinan besar Anda sedang menghadapi bujukan moral atau benar lawan salah. 
  5. Uji Panutan/Idola 
    Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat berarti bagi Anda. 

Langkah 5: Pengujian Paradigma Benar lawan Benar 

Mengidentifikasi paradigm sanagt penting karena, ini bukan hanya an permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

Langkah 6: Melakukan Prinsip Resolusi , yang terdiri dari 3 prinsip berpikir yaitu:

·       Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

·       Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

·       Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Langkah 7: Investigasi Opsi Trilema 

Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan  tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah.

Langkah 8: Buat Keputusan

Langkah 9, Tinjau lagi keputusan dan refleksikan

12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Sebelum mempelajari modul ini, saya pernah mengalami masalah yng berhubungan dengan dilemma etika. Keputusan yang saya ambil pada saat itu sering berdasarkan intuisi saya atau berdasarkan nilai-nilai yang saya pegang dan juga berdasarkan kepedulian kepada orang lain. Sehingga ketika saya mempelajari modul 3.1, saya merasa care based thinking adalah sebagai sebuah prinsip yang diapakai secara umum dalam mengambil keputusan terutama yang berhubungan dengan  masalah dilemma etika.

Sedangkan untuk kasus bujukan moral atau moral dilema, saya pernah berada dalam situasi tersebut, namun ketika itu terjadi saya berusaha mengambil keputusan dengan memikirkan dan menganalisis salah dan benar dari situasi yang saya hadapi dan saya mengambil keputusan dengan meminta secpnd opinion dari teman sejawat ataupun keluarga yang saya anggap lebih berpengalaman aytau sebagai panutan saya. Walaupun langkah pengambilan keputusan saya tidak sama persis seperti konsep yang saya pelajari di modul namun ada usur kesamaan yaitu menganalisis unsur kebenaran lawan kesalahan dan juga uji panutan atau idola.

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak yang saya rasakan setelah mempelajari modul 3.1 ini saya merasakan lebih percaya diri  dalam mengambil keputusan terutama sebagai pemimpin pembelajaran, saya lebih percaya diri karena bisa memastkan keputusan yang saya ambil tepat atau efektif karena sudah melalui proses pengujian keputusan yang terdiri dari 9 angkah tersebut, walaupun saya juga harus tetap belajar dan sharing kepada teman sejawat yang sudah berpengalaman untuk memastikan keputusan saya sesuai atau keputusan saya tersebut tepat.

Saya juga merasakan mendapat pengetahun yang berharga terutama sebagai individu dalam memandang permasalahn yang saya hadapi.

 

 

 

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Menurut saya pengetahuan  tentang pengambilan keputusan ini sangat penting bagi saya sehingga saya bisa mengambil keputusan yang tepat dan efektif, serta tidak gegabah dalam mengambil keputusan baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah. Sebelum saya mendapat pengetahuan tentang pengambilan keputusan ini saya merasa bahwa banyak hal atau keputusan yang saya buat selama ini tidak berdasar alur pemikiran yang jelas dan terstruktur, sehingga setelah mendapat materi di modul 3.1 mengenal bagaimana prinsip pengambilan keputusan yang tepat, pola pengambilan keputusan serta membedakan antara dilema etika dan bujukan moral serta penggunaan 9 langkah pengambilan keputusan, membuat saya semakin mantap dan percaya diri untuk bisa mengambil keputusan yang tepat. Walaupun saya harus lebih banyak lagi berlatih lagi dan belajar untuk melatih kemampuan pengambilan keputusan ini dan menerapkan ilmu yang sudah saya peroleh tapi saya sangat bersyukur bisa mendapatkan pengetahuan bagaimana orang-orang hebat mengambil keputusan yang tepat.

 

 

 

Eka Rahmady Hardianto_CGP Angkatan 7. Kabupaten Seruyan