12 April 2023

Tugas Demontrasi Kontekstual - Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin_CGP Angkatan 7. Kabupaten Seruyan.

 


Tujuan Pembelajaran Khusus: CGP dapat melakukan suatu analisis atas penerapan proses pengambilan keputusan berdasarkan pengetahuan yang telah dipelajarinya tentang berbagai paradigma, prinsip, pengambilan dan pengujian keputusan di sekolah asal masing-masing dan di sekolah/lingkungan lain.

Tugas Wawancara dengan Pimpinan/Kepala Sekolah:

CGP diminta untuk mewawancarai 2-3 pimpinan (kepala sekolah) di lingkungan Anda (salah satunya adalah pimpinan di sekolah asal Anda).

Hasil wawancara ini adalah untuk mendapatkan sebuah wacana tentang praktik pengambilan keputusan yang selama ini dijalankan, terutama untuk kasus-kasus yang di mana nilai-nilai kebajikan saling bersinggungan, atau untuk kasus-kasus dilema etika yang sama-sama benar.

Apa yang selama ini dilakukan pimpinan-pimpinan tersebut, praktik apa yang selama ini dijalankan?

Analisis praktik pengambilan keputusan dilema etika tersebut di antara para pemimpin yang Anda wawancarai, dan kaitkan dengan pengetahuan Anda sendiri tentang 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian. Analisis dan lakukan refleksi atas hasil wawancara tersebut. Silakan unggah hasil wawancara dan refleksi Anda dalam bentuk video/audio/tertulis.

Saya melakukan wawancara kepada Kepala Sekolah saya sendiri di SD Eka Tjipta Terawan yaitu Ibu Suyitni, S.Pd. Kemudian, yang ke-2 dengan Kepala SD Eka Tjipta Rungau Bapak Deni Priyanggara, S. Pd dan yang ke-3 dengan Kepala SD Eka Tjipta Seruyan Bapak Muhammad Fathul Adim, S.Pd.

Teknik yang saya gunakan dengan langkah-langkah sebagai berikut;

1.     Menggunakan google folmulir seperti link berikut; https://forms.gle/NQVFPdjcQAaCfE1k8

2.     Meminta ijin melalui telepon langsung dan mengirim pesan melalui WA.






3.    Data yang telah saya terima, kemudian kami lakukan pemindahan ke dalam format ms.word pada lampiran dibawah ini;

Berikut Hasil wawancara dengan Kepala Sekolah 1

1. Selama ini, bagaimana Anda dapat mengidentifikasi kasus-kasus yang merupakan dilema etika atau bujukan moral?

Tanggapan:

Sebagai seorang pemimpin di sebuah instasi pendidikan, pasti akan beragam kasus yang akan dihadapi, baik itu kasus yang keduanya benar tetapi saling bertentangan yang dikenal sebagai dilema etika ataupun kasus yang salah satunya benar dan yang lainnnya salah. Kedua kasus tersebut harus dapat diidentifikasi dengan benar agar tidak ada kesalahan dalam pengambilan keputusan. Cara saya untuk mengidentifikasi yang mana dari kedua kasus tersebut adalah dengan memahami masing masing kasus. Tentu saja untuk memahami kasus kasus tersebut saya harus berkomunikasi dengan pihak pihak yang terlibat. Setelah permasalahan sudah dipahami maka saya perlu melakukan beberapa hal untuk bisa memetakan apakah kasus terseut merupakan bujukan moral atau dilema etika. Untuk itu, perlu dilakukan dibuatkan daftar pertanyaan identifikasi kasus, syarat sebuah kasus merupakan delima etika jika kedua masalah yang berbenturan tersebut tidak melanggar hukum dan serta norma norma yang berlaku atau menimbulkan ketidaknyamana social. Jika kasus yang didentifikasi lolos dari syarat syarat tersebut maka dipastikan itu adalah kasus dilema etika. Dan sebaliknya jika syarat syarat diatas tidak terpenuhi maka itu adalah kasus bujukan moral.

2. Selama ini, bagaimana Anda menjalankan pengambilan keputusan di sekolah Anda, terutama untuk kasus-kasus di mana ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama mengandung nilai kebajikan?

Tanggapan:

Untuk kasus dilema etika saya akan mempertimbangkan kedua hal yang sama sama benar tersebut membenturkan faktor apa atau pihak mana? Apakah kepentingan perorang atau banyak orang, mengandung nilai nilai kebenaran atau kesetiaan, rasa adil atau belas kasihan, ataukah berdampak untuk saat ini atau seterusnya

3. Langkah-langkah atau prosedur seperti apa yang biasa Anda lakukan selama ini?

Tanggapan:

Suara hati dan nalar harus sejalan untuk memilih kebenaran yang paling kecil mudharatnya dan besar manfaatnya. Dengan mempertimbangkan kepentingan peserta didik jika kasus itu berhubungan dengan peserta didik, berdasarkan pada prinsip berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis peraturan, dan berpikir berbasis rasa peduli. Tahap berikutnya lakukan investigasi dengan memeriksa kembali fakta-fakta dan temukan peluang , lalu buatlah keputusan. Lalu keputusan ditinjau kembali hingga keyakinan kebenaran itu ada dan insya Allah dalam bimbingan Ilahi keputusan yang anda ambil adalah keputusan yang bertanggung jawab.

4. Hal-hal apa saja yang selama ini Anda anggap efektif dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika?

Tanggapan:

Dalam kasus pengambulan keputusan dengan dilema etika hal efektif yang perlu dilakukan adalah dengan menyederhanakan pokok permasalahan, dan membangun kebijkasanaan

5. Hal-hal apa saja yang selama ini merupakan tantangan dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika?

Tanggapan:

Hasil keputusan yang diambil mungkin akan pihak pihak yang tidak dapat menerima sepenuhnya, proses untuk dapat memahamkan sebagian orang untuk secara ikhlas menerima dan menjalan keputusan , menjadi sebuah tantangan. Serta untuk tetap istiqomah dalam menjalankan keputusan yang sduah disepakati

6. Apakah Anda memiliki sebuah tatakelola atau jadwal tertentu dalam sebuah penyelesaian kasus dilema etika, apakah Anda langsung menyelesaikan di tempat, atau memiliki sebuah jadwal untuk menyelesaikannya, bentuk atau prosedur seperti apa yang Anda jalankan?

Tanggapan:

Tidak ada jadwal tertentu dalam menyelesaikan sebuah kasus, prioritas kasus mana yang perlu diselesaikan secepatnya tergantung dari jenis kasus dan pentingnya kasus tersebut diselesaikan secepatnya, agar tercipta lingkungan sekolah yang sehat kondusif buat semua warga sekolah

7. Adakah seseorang atau faktor-faktor apa yang selama ini mempermudah atau membantu Anda dalam pengambilan keputusan dalam kasus-kasus dilema etika?

Tanggapan:

Komunikasi yang baik dengan semua warga sekolah, pengelolaan emosi yang baik dan pemahaman tentang teori pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin menjadi faktor yang mempermudah dan membantu dalam pengambilan keputusan

8. Dari semua hal yang telah disampaikan, pembelajaran apa yang dapat Anda petik dari pengalaman Anda mengambil keputusan dilema etika?

Tanggapan:

Dalam mengambil sebuah keputusan maka mengidentifikasi jenis kasus, harus bisa dilakukan lebih awal, dengan melakukan pengujian pengujian, lalu lakukan pengujian benar lawan benar untuk dapat menentukan paradigma apa yang akan kita pilih sehingga keputusan bisa diambil sesuai dengan prinsip prinsip yang tidak merugikan siswa.

 

 


1. Berikut ini hasil wawancara dengan kepala sekolah ke-2 • Selama ini, bagaimana Anda dapat mengidentifikasi kasus-kasus yang merupakan dilema etika atau bujukan moral?

Tanggapan:

Cara saya untuk mengidentifikasi yang mana dari kedua kasus tersebut adalah dengan memahami masing masing kasus. Tentu saja untuk memahami kasus kasus tersebut saya harus berkomunikasi dengan pihak pihak yang terlibat, setelah itu sudah dipahami maka saya perlu melakukan beberapa hal untuk bisa memetakan apakah kasus tersebut merupakan bujukan moral atau dilema etika.

Untuk itu perlu dilakukan dibuatkan daftar pertanyaan identifikasi kasus, syarat sebuah kasus merupakan delima etika jika kedua masalah yang berbenturan tersebut tidak melanggar hukum dan serta norma norma yang berlaku atau menimbulkan ketidaknyamanan sosial. Jika kasus yang didentifikasi lolos dari hal-hal tersebut maka dipastikan itu adalah kasus dilema etika, dan sebaliknya jika syarat syarat diatas tidak terpenuhi maka itu adalah kasus bujukan moral.

2. Selama ini, bagaimana Anda menjalankan pengambilan keputusan di sekolah Anda, terutama untuk kasus-kasus dimana ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama mengandung nilai kebajikan?

Tanggapan:

Untuk kasus dilema etika saya akan mempertimbangkan kedua hal yang sama sama benar tersebut membenturkan faktor apa atau pihak mana? Apakah kepentingan perorang atau banyak orang, mengandung nilai nilai kebenaran atau kesetiaan, rasa adil atau belas kasihan, ataukah berdampak untuk saat ini atau seterusnya

3. Langkah-langkah atau prosedur seperti apa yang biasa Anda lakukan selama ini?

Tanggapan:

Mengidentifikasi dengan mempertimbangkan kepentingan peserta didik jika kasus itu berhubungan dengan peserta didik, berdasarkan pada prinsip berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis peraturan, dan berpikir berbasis rasa peduli. Tahap berikutnya lakukan investigasi dengan memeriksa kembali fakta-fakta dan temukan peluang , lalu membuat keputusan. Lalu keputusan ditinjau kembali hingga yakin bahwa keputusan yang diambil adalah benar dan bisa dipertanggungjawabkan.

4. Hal-hal apa saja yang selama ini Anda anggap efektif dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika?

Tanggapan:

Hal-hal yang efektif dalam pengambilan keputusan adalah senantiasa menjalin dan menjaga keberpihakan melalui kebersamaan dan komunikasi dengan unsur pimpinan terutama yang dapat memperkaya referensi kita dalam memutuskan kasus dilema etika

5. Hal-hal apa saja yang selama ini merupakan tantangan dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika?

Tanggapan:

Hasil keputusan yang diambil akan ada pihak yang tidak dapat menerima sepenuhnya, proses untuk dapat memahamkan sebagian orang untuk secara ikhlas menerima dan menjalan keputusan , menjadi sebuah tantangan. Serta untuk tetap teguh dalam menjalankan keputusan yang sduah disepakati.

6. Apakah Anda memiliki sebuah tatakelola atau jadwal tertentu dalam sebuah penyelesaian kasus dilema etika, apakah Anda langsung menyelesaikan di tempat, atau memiliki sebuah jadwal untuk menyelesaikannya, bentuk atau prosedur seperti apa yang Anda jalankan?

Tanggapan:

Tidak terjadwal dalam menyelesaikan sebuah kasus, hanya memprioritaskan kasus mana yang perlu diselesaikan secepatnya tergantung dari jenis kasus dan pentingnya kasus tersebut diselesaikan secepatnya, agar terciptanya lingkungan sekolah yang sehat dan kondusif.

7. Adakah seseorang atau faktor-faktor apa yang selama ini mempermudah atau membantu Anda dalam pengambilan keputusan dalam kasus-kasus dilema etika?

Tanggapan:

Komunikasi yang baik dengan semua warga sekolah, pengelolaan emosi yang baik dan pemahaman tentang teori pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin menjadi faktor yang mempermudah dan membantu dalam pengambilan keputusan

8. Dari semua hal yang telah disampaikan, pembelajaran apa yang dapat Anda petik dari pengalaman Anda mengambil keputusan dilema etika?

Tanggapan:

Dalam mengambil sebuah keputusan maka mengidentifikasi jenis kasus itu penting dan harus bisa dilakukan lebih awal, lalu lakukan pengujian sebagai tolak ukur untuk dapat menentukan paradigma apa yang akan kita pilih sehingga keputusan bisa diambil sesuai dengan prinsip prinsip yang tidak merugikan siswa.


 

Berikut ini hasil wawancara dengan kepala sekolah ke-3

1.     Selama ini, bagaimana Anda dapat mengidentifikasi kasus-kasus yang merupakan dilema etika atau bujukan moral?

Tanggapan:

Kesesuaian dengan norma-norma masyarakat, agama adat maupun lainnya. selama tidak bertentangan dengan norma yang berlaku maka masih bisa dilakukan bersama.

2.     Selama ini, bagaimana Anda menjalankan pengambilan keputusan di sekolah Anda, terutama untuk kasus-kasus dimana ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama mengandung nilai kebajikan?

Tanggapan:

Jalankan sesuai dengan top prioritas / skala prioritas sesuai dengan program sekolah

3.     Langkah-langkah atau prosedur seperti apa yang biasa Anda lakukan selama ini?

Tanggapan:

Pertama, Analisis resiko, kedua cek Kesesuaian dengan peraturan sekolah. ketiga, jika tidak berjalan maka kordinasi dengan komite sekolah adalah bersifat final.

4.     Hal-hal apa saja yang selama ini Anda anggap efektif dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika?

Tanggapan:

Dalam hal kegiatan keagamaan nasional kami melaksanakan sangat efektif tanpa ada yang merasa terbebani baik guru maupun siswa dan orang tua. toleransi beragama juga sangat kondusif terjaga harmonis

 

 

5.     Hal-hal apa saja yang selama ini merupakan tantangan dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika?

Tanggapan:

Pertama, Warga sekolah berasal dari berbagai suku dan daerah.

Kedua, Adat, budaya dan kebiasaan masyrakat sangat plural, sehingga perlu adanya komunikasi yang sangat baik.

Ketiga, perbedaan agama dan implementasinya di sekolah

6.     Apakah Anda memiliki sebuah tatakelola atau jadwal tertentu dalam sebuah penyelesaian kasus dilema etika, apakah Anda langsung menyelesaikan di tempat, atau memiliki sebuah jadwal untuk menyelesaikannya, bentuk atau prosedur seperti apa yang Anda jalankan?

Tanggapan:

Tahapan yang saya lakukan  dalam menyelesaikan masalah, pertama analisa masalah dan dilanjutkan penyelesaian di tempat. tidak menunda penyelesaian masalah.

7.     Adakah seseorang atau faktor-faktor apa yang selama ini mempermudah atau membantu Anda dalam pengambilan keputusan dalam kasus-kasus dilema etika?

Tanggapan:

Sekolah berada dalam Yayasan Eka Tjipta Foundation yang memiliki kebijakan final dan keberadaan sekolah berada dalam lingkungan manajemen perkebunan sawit. sehingga sangat membantu dalam pengambilan keputusan. yang tentunya kedua hal tersebut adalah faktor akhir dalam mempermudah penyelesaian masalah. yang utama adalah kesadaran dari siswa dan bapak ibu guru.

8.     Dari semua hal yang telah disampaikan, pembelajaran apa yang dapat Anda petik dari pengalaman Anda mengambil keputusan dilema etika?

Tanggapan:

Penyelesaian masalah memiliki prosedur, tahapan dan keputusan. selain itu setiap masalah memiliki karakter berbeda-beda sehingga memiliki tatacara penyelesaian yang berbeda juga.

 

 

 

 

 

 

 

Refleksi Wawancara

1. Hal-hal menarik apa yang muncul dari wawancara tersebut, pertanyaan-pertanyaan mengganjal apa yang masih ada dari hasil wawancara bila dibandingkan dengan hal-hal yang Anda pelajari seperti 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengujian, apa yang Anda dapatkan?

Sesuai hasil wawancara yang saya lakukan, para kepala sekolah tersebut melakukan pengambilan keputusan dengan :

- Melakukan identifikasi masalah

- Melakukan diskusi dan komunikasi dengan unsur-unsur yang ada di sekolah terutama dengan pihak-pihak yang terlibat langsung

- Membuat keputusan yang berpihak pada siswa, bijaksana, bertanggung jawab, memaksimalkan potensi positif dan meminimalisir potensi negative.

Hal-hal yang telah dilakukan oleh masing-masing kepala sekolah tersebut menurut saya telah sesuai dengan teori yang saya pelajari di modul 3.1. tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajjikan, dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, namun tidan semua langkah dilakukan secara runut dan ada langkah yang tidak dilakukan, seperti pengujian benar atau salah maupun Investigasi Opsi Trilema.

2. Bagaimana hasil wawancara antara 2-3 pimpinan yang Anda wawancarai, adakah sebuah persamaan, atau perbedaan. Kira-kira ada yang menonjol dari salah satu pimpinan tersebut, mengapa, apa yang membedakan?

Berdasarkan hasil wawancara ada beberapa persamaan :

- Melakukan identifikasi masalah, mengumpulkan fakta-fakta

- Melakukan diskusi dan komunikasi dengan berbagai pihak terutama yang terlibat dalam masalah

Perbedaan dari kedua kepala sekolah dalam mengambil keputusan :

- Kepala sekolah pertama sudah melakukan hampir semua 9 langkah dalam pengambilan keputusan, membuat keputusan yang berpusat kepada siswa dan bertanggungjawab

- Kepala sekolah kedua dan ketiga lebih mengedepankan diskusi, komunikasi dan koordinasi dengan unsur-unsur sekolah dan pihak-pihak yang terlibat dalam masalah.

Menurut saya yang lebih menonjol dalam membuat keputusan sesuai langkah-langkah pengambilan keputusan dalam teori di modul 3.1 adalah kepala sekolah pertama.

3. Apa rencana ke depan para pimpinan dalam menjalani pengambilan keputusan yang mengandung unsur dilema etika? Bagaimana mereka bisa mengukur efektivitas pengambilan keputusan mereka?

Rencana kedepannya para pimpinan tersebut jika menghadapi permasalahan dilemma etika ataupun bujukan moral akan melakaukan tahapan-tahapan pengambilan keputusan sesuai dengan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dengan lebih lengkap termasuk pengujian dan investigasi opsi trilemma. Cara mengukur efektivitas pengambilan keputusan adalah dengan melakukan pengujian benar-salah, melakukan refleksi atas keputusan yang telah dibuat, serta meminta saran dan masukan dari pihak lain yang terkait dalam pengambilan keputusan tersebut.

4. Bagaimana Anda sendiri akan menerapkan pengambilan keputusan dilema etika pada lingkungan Anda, pada murid-murid Anda, dan pada kolega guru-guru Anda yang lain? Kapan Anda akan menerapkannya?

Saya akan menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan dalam setiap permasalah dilema etika baik ketika berhadapan dengan masalah murid maupun ketika ada kolega guru yang menemui masalah dilemma etika saya akan menawarkan mereka untuk mengambil keputusan sesuai 9 langkah pengambilan dan keputusan yang telah saya pelajari.

 

24 Maret 2023

Koneksi Antar Materi Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik

Kesimpulan dan Refleksi


Koneksi antar materi adalah penguasaan pemahaman calon guru penggerak (CGP) terhadap materi yang telah dipelajari dengan mengaitkan materi awal sampai dengan materi yang terakhir.

Penyampaian keterkaitan materi itu menandakan sejauh mana penguasaan dan pemahaman terhadap materi tersebut. CGP menyimpulkan dan menjelaskan keterkaitan materi yang diperoleh dan membuat refleksi berdasarkan pemahaman yang dibangun selama modul 2 dalam berbagai media.

Konsep Coaching secara Umum: Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999).

Coaching sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya (Whitmore, 2003). Coaching sebagai “…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.” (International Coach Federation -ICF).

Coaching dalam Konteks Pendidikan: Tujuan pendidikan itu ‘menuntun’ tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Keterampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat.

Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya.

Paradigma Berfikir Coaching: Tindakan untuk dapat membantu rekan sejawat untuk mengembangkan kompetensi diri mereka dan menjadi otonom, pentingnya perlu memiliki paradigma berpikir coaching terlebih dahulu.

Paradigma tersebut adalah (1) Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan, 

(2) Bersikap terbuka dan ingin tahu, 

(3) Memiliki kesadaran diri yang kuat, 

(4) Mampu melihat peluang baru dan masa depan.

Prinsip Coaching: (1) Kemitraan adalah posisi coach terhadap coachee-nya adalah mitra. Itu berarti setara dalam coaching, tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah.

Coachee adalah sumber belajar bagi dirinya sendiri. Coach merupakan rekan berpikir bagi coachee-nya dalam membantu coachee belajar dari dirinya sendiri. (2) Proses kreatif adalah dilakukan melalui percakapan, yang dua arah, memicu proses berpikir coachee, memetakan dan menggali situasi coachee untuk menghasilkan ide-ide baru.

(3) Memaksimalkan potensi adalah memaksimalkan potensi dan memberdayakan rekan sejawat, percakapan perlu diakhiri dengan suatu rencana tindak lanjut yang diputuskan oleh rekan yang dikembangkan.

Kompetensi Inti Coaching: 

(1) Mengajukan pertanyaan berbobot adalah mengajukan pertanyaan dengan tujuan tertentu atau pertanyaan berbobot.

Pertanyaan yang diajukan seorang coach diharapkan menggugah orang untuk berpikir dan dapat menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya, mengungkapkan emosi atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk membuat sebuah aksi bagi pengembangan diri dan kompetensi.

(2) Mendengarkan dengan aktif adalah kemampuan untuk fokus pada apa yang dikatakan oleh lawan bicara dan memahami keseluruhan makna yang tidak terucap.

(3) Kehadiran penuh (presence) adalah kemampuan untuk bisa hadir utuh pada coachee, atau di dalam coaching disebut sebagai coaching presense sehingga badan, pikiran, hati, selaras saat sedang melakukan percakapan coaching. Kehadiran penuh ini adalah bagian dari kesadaran diri yang akan membantu munculnya paradigma berpikir dan kompetensi lain saat kita melakukan percakapan coaching.

Alur Percakapan TIRTA: Tirta berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. Sebagai seorang coach salah satu peran terpentingnya adalah membantu coachee.

TIRTA terdari dari Tujuan awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee. Identifikasi dimana coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi.

Rencana Aksi dimana pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat. Tanggungjawab dimana membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya.

Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching: Dalam pelaksanaannya ada dua paradigma utama dalam menjalankan proses supervisi akademik yang memberdayakan, yakni paradigma pengembangan kompetensi yang berkelanjutan dan optimalisasi potensi setiap individu.

Prinsip supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching meliputi kemitraan, proses kolaboratif antara supervisor dan guru, konstrukti bertujuan mengembangkan kompetensi individu, terencana, reflektif, objektif, informasi diambil berdasarkan sasaran yang sudah disepakati, berkesinambungan, komprehensif: mencakup tujuan dari proses supervisi akademik.

Sedangkan pelaksanaan supervisi akademik didasarkan pada kebutuhan dan tujuan sekolah dan dilaksanakan dalam tiga tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan supervisi, dan tindak lanjut. Tahap perencanaan, supervisor merumuskan tujuan, melihat pada kebutuhan pengembangan guru, memilih pendekatan, teknik, dan model, menetapkan jadwal, dan mempersiapkan ragam instrumen.

Dalam tahapan pelaksanaan supervisi akademik adalah observasi pembelajaran di kelas atau yang biasanya kita sebut sebagai supervisi klinis. Tahap tindak lanjut, berupa kegiatan langsung atau tidak langsung seperti percakapan coaching, kegiatan kelompok kerja guru di sekolah, fasilitasi dan diskusi, serta kegiatan lainnya dimana para guru belajar dan memiliki ruang pengembangan diri lewat berbagai kegiatan.

Pemikiran reflektif terkait pengalaman belajar

Emosi yang dirasakan adalah termotivasi untuk lebih giat belajar mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang coaching untuk supervisi akademik dan semakin banyak melakukan praktik coaching maka akan semakin terasah kemampuan kita sebagai coach untuk hadir penuh (presence), mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot.

Terdapat tantangan untuk menerapkan praktik coaching secara berkelanjutan dengan murid atau rekan sejawat agar mendapatkan ketrampilan coaching untuk supervisi akademik. Hal yang sudah baik adalah memperoleh pemahaman dan pencerahan tentang materi coaching untuk supervisi akademik dan sudah mempraktikkannya.

Hal yang perlu diperbaiki adalah langkah-langkah yang baik dan bijak pada mengajukan pertanyaan yang berbobot kepada coachee. Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi adalah mengoptimalkan kekuatan diri sebagai seorang pendidik yang mampu menjadi coach dan melakukan coaching bagi orang-orang di lingkungan sekitar.

Keterkaitan materi modul 2.1 tentang Pembelajaran Berdiferensiasi dan modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), jika dihubungkan dengan materi coaching maka pembelajaran berdiferensiasi dimana guru harus berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa yang terdiri dari kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar siswa.

Langkah untuk memetakan kebutuhan individu siswa tersebut, guru bisa berperan sebagai coach untuk melakukan proses coaching dengan siswa sebagai coachee. Hal tersebut mampu mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri siswa sehingga akan menemukan cara terbaik dalam memenuhi kebutuhan individu siswa.

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) yang harus dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah untuk menumbukan kompetensi tentang kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab pada diri siswa. Proses coaching sejalan dengan PSE karena kompetensi sosial emosional tersebut dapat diterapkan oleh guru dalam proses coaching kepada siswa.

Keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran. Terdapat 4 macam paradigma berpikir coaching, yaitu:

(1) fokus pada coachee (rekan yang akan dikembangkan,

(2) bersikap terbuka dan ingin tahu,

(3) memiliki kesadaran diri yang kuat, dan

(4) mampu melihat peluang baru dan masa depan.

Di dalam pelaksanaan harus memperhatikan 3 kompetensi inti yang penting dipahami, diterapkan, dan dilatih secara terus menerus saat melakukan percakapan coaching kepada teman sejawat di sekolah, yaitu:

(1) kehadiran penuh (presence),

(2) mendengarkan aktif (menyimak), dan

(3) mengajukan pertanyaan berbobot.

Salah satu referensi yang dapat kita gunakan untuk mengajukan pertanyaan berbobot hasil dari mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh Julian Treasure.

RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask. Dimana R (Receive/Terima), yang berarti menerima/mendengarkan semua informasi yang disampaikan coachee. Perhatikan kata kunci yang diucapkan.

A (Appreciate/Apresiasi), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee. Respon yang diberikan bisa dengan anggukan, dengan kontak mata atau melontarkan kata. Bentuk apresiasi akan muncul saat kita memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya pada coachee tidak terganggu dengan situasi lain.

S (Summarize/Merangkum), saat coachee selesai bercerita rangkum untuk memastikan pemahaman kita sama. Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan coachee.

A (Ask/Tanya), coach mengajukan pertanyaan berbobot berdasarkan apa yang didengar dan hasil merangkum (summarizing), membuat pemahaman coachee lebih dalam tentang situasinya, hasil mendengarkan yang mengandung penggalian atas kata kunci atau emosi yang sudah dikonfirmasi, dan pertanyaan terbuka: menggunakan apa, bagaimana, seberapa, kapan, siapa atau di mana dan hindari menggunakan pertanyaan tertutup: “mengapa” atau “apakah” atau “sudahkah”.

Jika keterampilan coaching sudah meningkat maka pengembangan kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran akan meningkat pula. Percakapan-percakapan coaching membantu para guru berpikir lebih dalam (metakognisi) dalam menggali potensi yang ada dalam diri dan komunitas sekolahnya sekaligus menghadirkan motivasi internal sebagai individu pembelajar yang berkelanjutan yang akan diwujudnyatakan dalam buah pikir dan aksi nyata demi tercapainya kualitas pembelajaran yang berpihak pada murid.

Demikian hasil kesimpulan dan refleksi kami terhadap modul 2.3 Matari tentang coaching. Semoga bermanfaat. Semoga kita akan terus bersemangat untuk mempersiapkan calon generasi emas Indonesia. Amin.

Salam Semangat dan bahagia, Bapak/Ibu Guru Hebat!

 

 

Penulis: Eka Rahmady Hardianto

Calon Guru Penggerak Angkatan 7 Kabupaten Seruyan

Kata Baku dan Tidak Baku

           DALAM percakapan sehari-hari, kita sering menggunakan kata baku dan kata tidak baku. Penggunaan kata baku harus sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia dan kaidah-kaidah Bahasa Indonesia.Kata baku adalah kata yang penggunaannya sudah sesuai ejaan dan aturan pedoman bahasa Indoneisa yang baik dan benar. Ini bersumber kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata baku yang digunakan harus sesuai dengan EYD atau Ejaan yang Disempurnakan. Biasanya kata baku digunakan dalam kegiatan atau hal-hal yang resmi, seperti dalam bentuk surat maupun naskah pidato.Kata tidak baku adalah kata yang penulisannya tidak sesuai pedoman Bahasa Indonesia. 

Kata tidak baku biasanya digunakan pada kalimat-kalimat dalam percakapan sehari-hari karena terkesan santai dan tidak kaku.
Ciri-ciri kata baku
1. Tidak dipengaruhi bahasa daerah tertentu. 
2. Tidak dipengaruhi bahasa asing. 
3. Bukan bahasa percakapan. 
4. Pemakaian imbuhan pada kata bersifat eksplisit. 
5. Pemakaian kata sesuai dengan konteks kalimat. 
6. Kata baku bukan kata rancu. 
7. Kata baku tidak mengandung hiperkorek. 
8. Tidak mengandung pleonase.

Ciri-ciri kata tidak baku
1. Umumnya digunakan dalam bahasa sehari-hari. 
2. Dipengaruhi bahasa daerah dan bahasa asing tertentu. 
3. Dipengaruhi dengan perkembangan zaman. 4. Bentuknya dapat berubah-ubah. 
5. Memiliki arti yang sama, meski terlihat beda dengan bahasa baku.

Contoh kata baku dan tidak baku
1. Fondasi - Pondasi.
2. Frasa - Frase.
3. Geladi - Gladi.
4. Gizi - Giji.
5. Gua - Goa.
6. Gubuk - Gubug.
7.    Hektare - Hektar. 
8.    Hierarki - Hirarki. 
9.    Higienis - Higenis. 
10.    Ijazah - Ijasah. 
11.    Durian - Duren. 
12.    Efektif - Efektip. 
13.    Efektivitas - Efektifitas. 
14.    Ekosistem - Ekosistim. 
15.    Ekspor - Eksport. 
16.    Ekstra - Extra. 
17.    Ekstrakurikuler - Ekstrakulikuler. 
18.    Ekstrem - Ekstrim. 
19.    Elite - Elit. 
20.    Favorit - Pavorit. 
21.    Februari - Pebruari. 
22.    Abjad - Abjat.  
23.    Akhirat – Akherat 
24.    Aksesori - Asesoris. 
25.    Aktif - Aktip. 
26.    Akuarium - Aquarium. 
27.    Aluminium - Almunium. 
28.    Ambulans - Ambulan. 
29.    Analisis - Analisa. 
30.    Antena - Antene. 
31.    Antre - Antri. 
32.    Anugerah - Anugrah. 
33.    Azan - Adzan. 
34.    Afdal - Afdol. 
35.    Agamais - Agamis. 
36.    Ajek - Ajeg. 
37.    Adjektif - Ajektif. 
38.    Aktual - Aktuil. 
39.    Balsam - Balsem. 
40.    Batalion - Batalyon. 
41.    Baterai - Batere.  
42.    Baka - Baqa. 
43.    Barzakh - Barzah. 
44.    Batalion - Batalyon. 
45.    Batil - athil. 
46.    Bazar - Bazaar. 
47.    Becermin - Bercermin. 
48.    Besok - Esok. 
49.    Blanko - Blangko. 
50.    Boks - Bok. 
51.    Bosan - Bosen. 
52.    Bus - Bis. 
53.    Cabai - Cabe. 
54.    Capai - Capek. 
55.    Cedera - Cidera. 
56.    Cendekiawan - Cendikiawan. 
57.    Cengkih - Cengkeh. 
58.    Cinderamata - Cenderamata. 
59.    Cokelat - Coklat. 
60.    Daftar - Daptar. 
61.    Derajat - Derajad. 
62.    Desain - Desaign. 
63.    Detail - Detil. 
64.    Detergen - Deterjen. 
65.    Diagnosis - Diagnosa. 
66.    Ikhlas - Ihlas. 
67.    Indera - Indra. 
68.    Jagat - Jagad. 
69.    Jemaah - Jamaah. 
70.    Jenderal - Jendral. 
71.    Karier – Karir. 
72.    Kategori - Katagori. 
73.    Komplet - Komplit. 
74.    Kreativitas - Kreatifitas. 
75.    Kuitansi - Kwitansi. (OL-14)

23 Maret 2023

Gerhana Matahari Total di Bulan Ramadhan Tahun 2023


Gerhana Matahari Terjadi pada Bulan Ramadan Tahun Ini, Catat Tanggal dan Waktunya

MALANG, Tim Astrofotografi Universitas Brawijaya (UB) memperkirakan bulan Ramadan tahun ini akan terjadi gerhana matahari.
Sebab terjadi konjungsi matahari dan bulan menjelang 1 Syawal 1444, dari penelitian yang dilakukan tim Astrofotografi UB yang terdiri Eka Maulana, Waru Djuriatno, M Aswin, A A Razak, dan beberapa Pranata Laboratorium Fakultas Teknik.
Menurut Eka Maulana, gerhana matahari total dapat diamati di Indonesia bagian timur hingga tengah. Sedangkan gerhana matahari parsial (sebagian) dapat diamati dari Indonesia bagian tengah hingga bagian barat.
"Fenomena gerhana matahari diperkirakan akan terjadi pada tanggal 20 April 2023," kata Eka Maulana, dikonfirmasi pada Rabu pagi (22/3/2023).
Nantinya masyarakat yang berada pada daerah Indonesia bagian barat khususnya di Kota Malang, dikatakan Eka dapat menyaksikan gerhana matahari parsial pada 20 April 2023 mulai pukul 9.28 WIB hingga pukul 12.22 WIB.
"Puncak gerhana matahari terjadi pukul 10.52 dengan tingkat magnitute gerhana 67 persen Total Waktu gerhana 2 jam 55 menit," ujarnya.

Terjadinya gerhana matahari berpotensi dapat menyebabkan berkurangnya intensitas radiasi inframerah matahari yang jatuh ke lapisan ionosfer bumi. 

Fenomena ini memungkinkan menurunnya jumlah foton yang merupakan gelombang elektromagnetik yang berada diatas bumi. 

Di mana sifatnya sebagai gelombang elektromagnetik ini berperan sebagai media transmisi dalam pengiriman sinyal satelit, radio, handphone, maupun sinyal perangkat komunikasi sejenis lainnya. 

"Jika perangkat-perangkat komunikasi ini tidak diset dengan ambang batas toleransi perubahan intensitas radiasi ini maka ada peluang akan terpengaruh dalam pengiriman datanya. Perubahan radiasi ini besar kemungkinan juga dapat dirasakan oleh makhuk hidup lain yang peka terhadap perubahan intensitas gelombang elektromagnetik seperti hewan melata, burung, maupun jenis tanaman tertentu," tuturnya.

Meghadapi fenomena ini, Eka dan tim menyarankan untuk selalu waspada terhadap segala bentuk perubahan iklim, cuaca, maupun fenomena alam lainnya. 

Berlangsung Hari Ini, Begini Proses Terjadinya Gerhana Matahari Cincin
"Bahwa adanya fenomena-fenemena ini adalah tanda-tanda alam dari sang Pencipta yang mestinya kita ambil pelajaran serta hikmahnya. Disarankan melihat gerhana matahari dengan filter matahari, sehingga tidak secara langsung radiasi sinar ini mengenai mata kita," ujarnya.

Sumber: https://www.celebrities.id/read/gerhana-matahari-terjadi-pada-bulan-ramadan-tahun-ini-catat-tanggal-dan-waktunya-jE009S