Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP)
A.Identitas
Sekolah
Sekolah : SMK-YPSEI
Palangkaraya
Mata
Pelajaran : Bahasa
Indonesia
Kelas/Semester : X/II
Pertemuan : Ketiga
Alokasi
Waktu : 2 x 45
menit
B. Standar
Kompetensi
Berkomunikasi dengan bahasa Indonesia setara tingkat
Semenjana
C. Kompetensi
Dasar
Menulis
dengan memanfaatkan kategori/kelas kata.
D. Indikator
|
No.
|
Indikator
Pencapaian Kompetensi
|
Nilai
Budaya dan Karakter Bangsa
|
Kewirausahaan/
Ekonomi Kreatif
|
|
1.
|
Membedakan berbagai macam kategori kelas
kata dengan baik.
|
Mandiri
bersahabat
Demokratis
Tanggung Jawab
Komunikatif
Jujur
|
Kepemimpinan
|
|
2.
|
Menyebutkan kategori frasa dan macamnya
|
E. Tujuan
Pembelajaran
1.
Siswa mampu membedakan berbagai macam kategori kalas kata
dengan baik
2.
Siswa mampu menyebutkan kategori frasa dan macamnya
F. Materi
Pembelajaran
A. Kelas Kata
Kata
merupakan unsur utama dalam membentuk kalimat. Selain bentuk dasarnya, kata juga dapat dibentuk melalui proses
morfologis, yaitu afiksasi (pengimbuhan), reduplikasi
(perulangan), dan komposisi (penggambungan) untuk menyampaikan
maksud yang terkandung di dalam kalimat. Dalam kalimat, kata
memiliki kedudukan atau jabatan seperti subjek, predikat, objek, dan
keterangan. Dalam kaitannya dengan jabatan
di dalam kalimat dan hubungannya dengan
fungsi serta makna yang ditunjukkannya, kata dikategorikan
ke dalam kelas kata. Dalam perkembangan tata bahasa
Indonesia, terdapat banyak rumusan tentang
kelas kata oleh para ahli bahasa. Namun secara umum, kelas kata terbagi menjadi berikut ini.
1. Kata kerja (verba)
2. Kata sifat (adjektiva)
3. Kata keterangan
(adverbia)
4. Kata benda
(nomina), kata ganti (pronomina), kata bilangan (numeralia)
5. Kelompok kata tugas
ialah :
1. Kata Sandang (artikel)
2. Kata Depan (preposisi)
3. Kata Hubung (konjungsi)
4. Partikel
5. Kata Seru (interjeksi)
1. Kata Kerja (Verba)
Kata
kerja atau verba adalah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan, proses,
dan keadaan yang bukan merupakan sifat. Kata kerja pada umumnya berfungsi
sebagai predikat dalam kalimat.
Ciri kata kerja:
1. Dapat
diberi aspek waktu, seperti akan, sedang, dan telah
Contoh: akan mandi, akan tidur, sedang makan,
telah pulang
2. Dapat
diingkari dengan kata tidak
Contoh: tidak makan, tidak tidur.
3. Dapat
diikuti oleh gabungan kata dengan + KB/KS
Contoh: Pergi dengan adik, menulis dengan
cepat.
Macam-macam kata kerja (verba):
a. Verba
dasar bebas, seperti: duduk, makan, mandi, minum, pergi,
pulang, tidur
b. Verba
turunan, terdiri atas:
1. Verba
berafiks:
Contoh: ajari, bernyanyi, bertaburan.
2. Verba
bereduplikasi:
Contoh: bangun-bangun, ingat-ingat,
makan-makan, marah-marah.
c. Verba
berproses gabung:
Contoh:
bernyanyi-nyanyi, tersenyum-senyum, makan-makan.
d. Verba
majemuk :
Contoh:
cuci mata, campur tangan, unjuk gigi
e. Verba
transitif (kata kerja yang membutuhkan objek)
Contoh :
- Saya menulis surat.
S P O
-
Adik membeli balon.
S P O
f. Verba
intransitif (kata kerja yang tak memerlukan objek)
Contoh :
- Mereka duduk di taman.
S P K
- Anak-anak itu bersepeda di
sepanjang pantai.
S P K
- Adik sedang mandi.
S P
2. Kata Sifat (Adjektiva)
Kata sifat
atau adjektiva adalah kata yang menerangkan sifat, keadaan watak, dan tabiat orang/binatang/ benda. Kata sifat umumnya
berfungsi sebagai predikat, objek dan penjelas
subjek.
Ciri-ciri kata sifat:
1. Dapat diberi
keterangan pembanding lebih, kurang, dan paling Contoh: lebih indah, kurang
bagus, paling kaya.
2. Dapat diberi
keterangan penguat: sangat, amat, benar, terlalu, dan sekali Contoh: sangat senang, amat keras, mahal benar, terlalu berat,
sedikit
sekali.
3. Dapat diingkari
dengan kata tidak Contoh: tidak benar, tidak halus, tidak
sehat, dan sebagainya
Macam-macam adjektiva:
a. Ajektiva dasar,
seperti adil, afdol, bangga, baru,
cemas, disiplin, anggun, bengkak.
b. Adjektiva
turunan terdiri atas:
1. Adjektiva berafiks contoh: terhormat, terindah, kesakitan, kesepian,
keinggris-inggrisan.
2. Adjektiva
bereduplikasi: contoh:
muda-muda, elok-elok, cantik-cantik.
3. Adjektiva
berafiks –i, -wi, -iah contoh:
abadi, duniawi, insani, ilmiah, rohaniah, surgawi.
c. Adjektiva
deverbalisasi, misalnya: melengking,
terkejut, menggembirakan, meluap.
d. Adjektiva
denominalisasi, misalnya: berapi-api, berbudi, budiman, kesatria, berbusa, dan lain-lain
e. Adjektiva
de-adverbialisasi, misalnya : bersungguh-sungguh, berkurang, bertambah.
f. Adjektiva
denumeralia, misalnya: manunggal, mendua, menyeluruh.
g. Adjektiva
de-interjeksi, misalnya: aduhai, sip, asoy.
h. Adjektiva majemuk,
misalnya: panjang tangan, buta huruf, lupa daratan, tinggi hati.
i. Adjektiva eksesif
(berlebih-lebihan), misalnya alangkah gagahnya, bukan main kuatnya, Maha kuasa.
3. Kata Keterangan (Adverbia)
Kata
keterangan atau adverbia adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat. Macam-macam adverbia:
a. Adverbia dasar
bebas, misalnya: alangkah, agak, akan, amat, nian, niscaya, tidak, paling, pernah, pula, saja, saling.
b. Adverbia turunan
terbagi atas:
1. Adverbia reduplikasi,
misalnya: agak-agak, lagi-lagi, lebih-lebih, paling-paling.
2. Adverbia gabungan,
misalnya: belum boleh, belum pernah, atau tidak mungkin.
3. Adverbia yang berasal dari berbagai kelas, misalnya:
terlampau, agaknya, harusnya, sebaiknya,
sebenarnya, secepat-cepatnya.
4. Kata Benda (Nomina), Kata Ganti
(Pronomina), Kata Bilangan (Numeralia)
a. Kata Benda (Nomina)
Kata benda
atau nomina adalah kata yang mengacu kepada sesuatu benda (konkret maupun abstrak).
Kata benda berfungsi sebagai subjek, objek, pelengkap, dan keterangan. Ciri-ciri kata benda:
1. Dapat diingkari dengan kata bukan Contoh : bukan gula, bukan rumah, bukan
mimpi, bukan pengetahuan.
2. Dapat diikuti dengan gabungan kata yang
+ KS (kata sifat) atau yang sangat + KS Contoh : buku yang mahal, pengetahuan yang sangat penting, orang
yang baik. Macam-macam nomina:
a. Nomina bernyawa, misalnya: Umar,
Abdullah, nenek, nona, ayah, kerbau, ayam.
b. Nomina tak bernyawa, misalnya: nama
lembaga, hari, waktu, daerah, bahasa.
c. Nomina terbilang, misalnya: kantor,
rumah, orang, buku.
d. Nomina tak terbilang, misalnya: udara,
kebersihan, kemanusiaan.
e. Nomina kolektif, misalnya: cairan,
asinan, buah-buahan, kelompok.
f. Nomina ukuran, misalnya: pucuk, genggam,
batang, kilogram, inci.
g. Nomina dari proses nominalisasi, misalnya: keadilan,
kenaikan, pembicara, pemotong, anjuran, simpulan, pengumuman, pemberontakan.
h. Nominalisasi dengan si dan sang, misalnya: si kecil,
si manis, sangkancil, sang dewi.
i. Nominalisasi dengan yang, misalnya: yang lari, yang berbaju, yang cantik.
b. Kata
Ganti (Pronomina)
Kata ganti
atau pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu pada nomina lain. Pronomina
berfungsi untuk mengganti kata benda atau nomina.
Macam-macam pronomina:
Ada tiga macam pronomina dalam bahasa Indonesia, yakni (1) pronomina persona, (2) pronomina penunjuk (3) Pronomina penanya.
1. Pronomina Persona
a). Pronomina reduplikasi,
misalnya: kita-kita, dia-dia, dan beliau-beliau.
b). Pronomina berbentuk frasa, misalnya: kamu sekalian, aku ini,
dia itu.
c). Pronomina takrif, terbatas pada pronomina persona (orang)
misalnya:
(a). Pronomina persona I (kata ganti orang I) : saya, aku (tunggal),
dan kami, kita (jamak) (b). Pronomina persona II (kata ganti orang II) : kamu, engkau, Anda (tunggal), dan kalian, Anda sekalian (jamak)
(c). Pronomina persona III (kata ganti orang III) : ia, dia,
beliau (tunggal),
dan mereka
(jamak)
d). Pronomina tak takrif, tidak menunjuk pada orang atau benda tertentu, misalnya : sesuatu, seseorang, barang siapa, siapa, apa-apa, anu, dan masing-masing
sendiri.
2. Pronomina Penunjuk
Pronomina Penunjuk dalam bahasa Indonesia ada tiga macam.
(a) Pronomina penunjuk umum: ini, itu, dan anu.
(b) Pronomina penunjuk tempat: sini, situ, atau sana.
(c) Pronomina penunjuk ihwal: begini dan begitu.
3. Pronomina Penanya
Pronomina penanya adalah pronomina yang dipakai sebagai
pemarkahpertanyaan. Contoh: siapa, apa, mana, mengapa,
kapan, dimana, bagaimana, dan berapa.
c.
Kata Bilangan (Numeralia)
Kata bilangan atau numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung
banyaknya orang, binatang, dan benda. Macam-macam
numeralia:
a). Numeralia utama (kardinal), terdiri atas:
(a). Bilangan penuh, misalnya: satu, dua, tiga, puluh, ribu, juta.
(b). Bilangan pecahan, misalnya: sepertiga, duapertiga, lima
perenam.
(c). Bilangan gugus, misalnya: selikur (21), lusin, gros, kodi,
atau ton.
b). Numeralia tingkat, yaitu numeralia yang menunjukkan urutan
atau
struktur Misalnya: pertama, kesatu, kedua, keempat, ketiga
belas.
c). Numeralia kolektif, numeralia yang terbentuk oleh afiksasi,
misalnya : ketiga (ke + Num), ribuan,
ratusan (Num + -an), beratus-ratus, dan bertahun-tahun (ber- + Num)
5. Kelompok Kata Tugas
Kata tugas terdiri atas:
a. Kata
Sandang (Artikel)
Kata sandang atau artikel adalah kata yang mendampingi kata benda atau yang membatasi makna jumlah orang atau benda. Macam-macam artikel:
a). Artikula/artikel bermakna tunggal, misalnya: sang guru, sang
suami, sang juara.
b). Artikula/artikel bermakna jamak, misalnya: para petani, para
guru, para ilmuwan.
c). Artikula/artikel bermakna netral, misalnya: si hitam manis, si
dia, si terhukum.
d). Artikula/artikel bermakna khusus, misalnya: Sri Baginda, Sri
Ratu, Sri Paus (gelar kehormatan), Hang Tuah, dan Dang Halimah (panggilan pria dan wanita dalam sastra lama)
b. Kata
Depan (Preposisi)
Kata depan atau preposisi adalah kata yang selalu berada di depan
kata benda, kata sifat, atau kata kerja untuk
membentuk gabungan kata depan (frasa preposisional)
Macam-macam preposisi:
a). Preposisi dasar, misalnya:
di , ke, dari, akan, antara, kecuali, bagi, dalam, daripada, tentang, pada, tanpa, untuk, demi, atas, depan, dekat.
b). Preposisi turunan, terdiri atas:
(a). gabungan preposisi dan
preposisi, misalnya : di depan, ke belakang, dari muka.
(b). gabungan preposisi +
preposisi + non-preposisi, misalnya : di atas rumah, dari tengah-tengah
kerumunan.
(c). gabungan preposisi + kelas kata + preposisi + kelas kata,
misalnya dari rumah ke
jalan, dari Bogor sampai Jakarta, dari pagi hingga petang.
c). Preposisi yang menunjukkan ruang lingkup, misalnya sekeliling, sekitar, sepanjang, seputar.
c. Kata
Hubung (Konjungsi)
Kata hubung atau konjungsi adalah kata yang berfungsi menghubungkan dua kata atau dua
kalimat. Macam-macam konjungsi:
a). Konjungsi penambahan,
misalnya: dan, dan lagi, tambahan lagi, lagi pula.
b). Konjungsi urutan,
misalnya: lalu, lantas, kemudian, setelah itu.
c). Konjungsi pilihan,
misalnya: atau
d). Konjungsi perlawanan,
misalnya: tetapi, sedangkan, namun,
sebaliknya, padahal.
e). Konjungsi menyatakan
waktu, misalnya: ketika, sejak, saat, dan lain-lain
f). Konjungsi
sebab-akibat, misalnya: sebab, karena, karena itu, akibatnya dan lain-lain
g). Konjungsi persyaratan, misalnya: asalkan, jikalau, kalau, dan
lain-lain
h). Konjungsi pengandaian,
misalnya: andaikata, andaikan, seandainya, seumpamanya.
i). Konjungsi
harapan/tujuan, misalnya: agar, supaya, hingga.
j). Konjungsi perluasan,
misalnya: yang
k). Konjungsi pengantar
objek, misalnya: bahwa
l). Konjungsi penegasan,
misalnya: bahkan dan malahan
m). Konjungsi pengantar
wacana, misalnya: adapun, maka, jadi.
d. Partikel
Partikel adalah kategori atau unsur yang bertugas memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan sebuah kalimat dalam komunikasi. Unsur ini digunakan dalam kalimat tanya, perintah dan pernyataan
(berita). Macam-macam partikel:
a). kah,
misalnya: Apakah Bapak Ahmadi sudah datang?
b). kan,
misalnya: Tadi kan sudah dikasih tahu!
c). deh,
misalnya: Makan deh, jangan malu-malu.
d). lah,
misalnya: Tidurlah hari sudah malam!
e). dong,
misalnya: Bagi dong kuenya.
f). kek,
misalnya: cepetan kek, lama sekali.
g). pun,
misalnya: Membaca pun ia tak
bisa.
h). toh,
misalnya: Saya toh tidak merasa bersalah.
i). yah,
misalnya: Yah, apa aku bisa melakukannya?
e. Kata
Seru (Interjeksi)
Kata seru atau interjeksi adalah kata tugas yang dipakai untuk mengungkapkan seruan hati atau berbagai ungkapan perasaan. Macam-macam interjeksi :
a). Seruan atau panggilan, misalnya: hai, ayo, halo, wahai.
b). Keheranan atau kekaguman, misalnya: aduhai, amboi, astaga, wah.
c). Kesakitan, misalnya: aduh
d). Kekecewaan atau kekesalan, misalnya: uh, brengsek, buset, yaa.
e). Kekagetan, misalnya: lho, masya Allah, Astagfirullah, ya Gusti.
f). Kelegaan, misalnya: Alhamdulillah, nah, syukurlah.
g). Kejijikan, misalnya: bah, cih, cis, hii, idih, ih
B. Frasa
dan Macamnya
Frasa
adalah bagian kalimat yang terbentuk dari dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi atau jabatan di dalam kalimat. Di dalam kalimat terdapat subjek (S), predikat (P), objek (O),
keterangan (K), dan pelengkap (pel).
Contoh :
- Dokter membaca buku.
S P O
- Dokter muda sedang membaca buku cerita.